Photo by Mauku Coffee

Sebelumnya saya mau sedikit cerita. Sekitar bulan Juli tahun lalu, saya diajak istri untuk nyobain kopi susu di sebuah coffee shop. Saya agak sayang sebenernya, soalnya 1 cup es kopi harganya 20rb :D. Saya sendiri sebelumnya gak pernah bahkan anti untuk makan atau minum minuman yang “mahal” di tempat yang “mahal”. Untuk saya segelas es kopi susu seharga 20rb yang isinya cuma sekitar 150–170ml itu termasuk mahal, soalnya saya biasa ngopi sasetan cuma 2rb aja,akakak…

Ketika nyobain kopi susu itu untuk pertama kalinya saya langsung MINDBLOW, dalam hati “gile enak banget ni kopi susu”. Saya gak pernah merasakan kopi susu seenak itu #NORAK. Lalu hati saya mulai “memaklumi” okelahhh 20rb untuk rasa seenak ini worth it!

Setelah kopi susu pertama itu, muncul kopi susu kopi susu lainnya. Saya jadi sering icip-icip kopi susu di berbagai coffee shop dalam rangka atau misi mencari kopi susu terenak di kota Medan,hehe… Dan menurut saya, ini penilaian subjektif ya, kopi susu terenak di kota Medan adalah Kopi Susu Bahagia dari Mauku Coffee. Dia rasanya balance banget antara kopi dan susu, agak sepet-sepet pahit manis bahagia gitu. Burgernya juga enak.

Singkat cerita sejak saat itu saya jadi cukup sering membeli kopi susu bahagia ini. Kalau pas lewat depat coffee shopnya selalu menyempatkan mampir, karena posisinya agak jauh dari rumah. Kalau lagi nungguin istri beli kopi susu bahagia dst sampai selama 6 bulan.

Sampai sekitar bulan november, saya ketemu sebuah artikel di medium dan beberapa video di youtube yang membeberkan fakta kalau kebiasaan ngopi di coffee shop ini bisa membuat kita bangkrut secara finansial, terutama untuk kalangan milenial seperti kita. Saya pengen jelasin tentang hal ini lebih detail sih, tapi nanti postingannya kepanjangan, mungkin teman-teman bisa searching sendiri tentang hal ini di internet. Intinya, setelah saya tau kalau ngopi di coffee shop itu bikin bocor halus dompet, saya mencoba untuk merekap pengeluaran saya selama sebulan khusus untuk ngopi. Dan betapa kagetnya saya, ternyata selama 1 bulan saya bisa mengeluarkan 300–400rb untuk kopi susu, MINDBLOW! :O

Wah gak beres ini! Kalau setiap bulan segitu kalau setahun berapa? 2 tahun berapa? bisa bikin coffee shop sendiri kali kalau ditotal-total,haha. Gak beres gak beres, masalah ini harus disolving. Saya pun langsung berpikir gimana caranya saya agar bisa berhenti beli kopi susu kekinian yang enak banget itu. Lalu saya terpikir, wait, ada gak ya resep kopi susu kekinian di mbah google? Saya langsung coba searching di google “resep kopi susu kekinian” dan BOOOMM!!! ternyata ada banyak banget resepnya 🤣

Kemana aja saya selama ini. Ngapain repot-repot dan mahal-mahal beli kopi susu. Mending bikin sendiri aja. Dan saya pun mulai mencoba resep-resep di internet.

Selama 1 bulan full (desember) saya mencoba bereksperimen dengan resep-resep yang di internet. Saya pun mulai membeli peralatan basic untuk membuat kopi seperti mokapot dan mesin kopi drip ekonomis. Oh iya, challangenya adalah saya gak mau sampai beli mesin kopi espresso yang untuk harga paling murah di angka 2,5 juta. Kenapa? Ya karena mahal lah :D. Saya gak mau spend uang segitu banyak hanya untuk paling ngopi susu seminggu 2–3 kali saja. Dan saya menchallange diri saya pribadi untuk gimana caramnya bikin kopi susu yang rasanya sampai persis 100% seperti di coffee shop coffee shop itu, tapi tanpa mesin espresso (di coffee shop semuanya pakai mesin espresso)

Coba sekali, ambyarrrrr.. Coba untuk kedua kalinya, masih tetap ambyarrrr.. 3 kali, 4 kali, better lahhh.. Percobaan ke 6,7,8 lha kok rasanya ambyar lagi :D. Saya terus trial error trial error. Rasa penasaran saya semakin menjadi-jadi. Saya coba evaluasi salahnya di mana, saya catat, lalu saya coba kombinasi lainnya antara kopi, susu, gula aren, suhu air dll.

Singkat cerita, setelah belasan kali mencoba. Tibalah hari yang saya tunggu-tunggu, 5 January 2020, alhamdulillah atas izin dan bantuan Allah akhirnya saya berhasil membuat kopi susu kekinian dengan rasa sama persis seperti di coffee shop coffee shop 😀

Nah sebelum saya mengklaim kalau rasa kopi susu ini sudah mirip seperti rasa kopi susu bahagia kesukaan saya, saya meminta istri untuk mencobanya. Dan respon istri sehabis mencoba kopi susu buatan saya “lah kopi mauku ini” 😀

YESSSS!!! Saya seneng banget rasanya. Seneng karena mulai hari ini saya memutuskan untuk berhenti jajan di coffee shop untuk selamanya insya Allah (paling sesekali aja untuk ngetes menu baru abis itu trial error lagi di rumah :D)

Sekarang kalau mau buat kopi susu cukup di rumah aja. 1 list dari “kebiasaan buruk” yang saya inginkan sudah berhasil saya “CORET” dalam waktu kurang lebih 1 bulan.

Pelajaran apa yang bisa sama-sama kita ambil dari cerita ini?

  1. Pengeluaran uang walau terlihat kecil sebenernya bisa membuat dompet kempes kalau dilakukan terus-menerus seperti jajan kopi di coffee shop
  2. Hati-hati ketika memutuskan mencoba sesuatu, karena bisa jadi kita kecanduan sama sesuatu tersebut
  3. Harus bisa deteksi dini ketika kita mulai kecanduan sesuatu
  4. Semua ilmu atau resep itu sekarang ada di internet. Tinggal kitanya yang mau cari dan coba atau nggak
  5. Hati-hati sama lifestyle inflation. Dari beberapa artikel yang saya baca, ngopi di coffee shop atau makan di restaurant mahal itu termasuk lifestyle inflation. Sesekali saja boleh sebagai reward. Tapi ingat back to poin no 3 ti atas
  6. Make your own coffee! Make your own food! Bikin sendiri kopimu. Gak ada tu cerita kopi enak cuma bisa dinikmati dari tangan barista handal. Kamu juga bisa bikin kopi enak, tinggal kamunya yang mau belajar dan latihan atau nggak. Semua rahasia bikin kopi atau kopi susu enak tersedia gratis di google!
  7. Jangan pernah takut untuk mencoba (namun tetap perhatikan poin no 2)

Itu sih beberapa pelajaran yang saya dapatkan. Mungkin teman-teman mendapat pelajaran lain di luar list itu, monggo share di kolom komentar 🙂

Oh iya teman-teman mau tau rahasia resep kopi susu kekinian yang rasanya bener-bener mirip kaya di coffee shop itu? Saya kasih tau resepnya: GOOGLING 😀

2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *